Sunrise di Pulau Pisang (Foto by: Ayub Adhi Sasmita)
Sunrise di Pulau Pisang (Foto by: Ayub Adhi Sasmita)

Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat memiliki komitmen untuk pengembangan destinasi wisata, termasuk Pulau Pisang yang secara bertahap ditingkatkan infrastrukturnya dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekitar.

Tersembunyi di sisi barat Pulau Sumatera, Pulau Pisang kerap luput dari perhatian pembuat peta. Pesonanya terdapat di pasir yang putih bersih serta aroma cengkih yang menyeruak dan begitu menggoda.

Pulau Pisang melihat dari atas (Foto by: dedenangga)
Pulau Pisang melihat dari atas (Foto by: dedenangga)

Pulau kecil seluas 148,82 hektare laksana sepotong surga di tengah Samudera Hindia yang diberi nama Pulau Pisang.

Secara administratif, Pulau Pisang terletak di Kecamatan Pulau Pisang, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Di dalam pulau ini terdapat enam pekon (desa) yakni Pekon Labuhan, Pasar, Sukadana, Sukamarga, Lok, dan Bandar Dalam.

Pohon Cengkeh di Pulau Pisang
Pohon Cengkeh di Pulau Pisang

Pada era tahun 70-80 an, Pulau Pisang merupakan sentra cengkih terkenal. Sayangnya, era kejayaan cengkih sirna dan masyarakat pulau mulai kehilangan penopang ekonomi utamanya. Sebagian besar rumah penduduk ditinggalkan pemiliknya. Sebagian masyarakat yang tetap tinggal, menggantungkan hidupnya dari mencari ikan.

Destinasi Wisata Unggulan

Meski demikian, pesona Pulau Pisang tidaklah hilang ditelan zaman. Seiring terbentuknya Kabupaten Pesisir Barat, Pulau Pisang perlahan menampilkan dirinya sebagai destinasi wisata unggulan.

Bermain di Pantai
Bermain di Pantai

Sebagai tempat tujuan wisata, tidak ada yang kurang dari pulau ini. Pantai yang bersih, bebatuan karang yang indah, dan habitat lumba-lumba di sekitarnya menjadi daya tarik tersendiri.

Kapal nelayan sedang bersandar
Kapal nelayan sedang bersandar

Baca juga: Kenekatan Berbuah Kisah Mengeksplore Pulau Pisang

Objek Wisata, Kuliner, dan Transportasi

Di Pulau Pisang terdapat berbagai obyek wisata yang bisa dikunjungi, seperti Batu Gukhi yakni batu berbentuk unik di pinggir pantai. Kemudian Batu Liang yakni tebing yang menjorok ke lautan yang menjadi obyek fotografi menarik.

Batu
Batu Gukhi
Pantai dekat Batu Gukhi
Pantai dekat Batu Gukhi

Masyarakat Pulau Pisang juga memiliki kekayaan kuliner yang tidak ditemui di daerah lainnya sepert sayur dari daun kelor, sayur kacang hijau, dan lain sebagainya.

Iwa Panggang + Sayur Kelor
Iwa Panggang + Sayur Kelor
Serabi Kuliner Khas Pesisir Barat
Serabi Kuliner Khas Pesisir Barat
Gulai Khetak Khidip Sua Bulung Tangkil
Gulai Khetak Khidip Sua Bulung Tangkil
Sate Iwa Tuhuk dan Sop Iwa Tuhuk
Sate Iwa Tuhuk dan Sop Iwa Tuhuk

Untuk mencapai Pulau Pisang diperlukan sekitar satu jam penyebrangan menggunakan perahu jukung bermesin dari Pelabuhan Kuala Stabas di Krui, ibukota Kabupaten Pesisir Barat.

Kalau beruntung akan melihat Lumba-lumba saat meyebrang ke Pulau Pisang dari Labuan Jukung (Foto by: riez_aries)
Kalau beruntung akan melihat Lumba-lumba saat meyebrang ke Pulau Pisang dari Labuan Jukung (Foto by: riez_aries)

Jika kamu beruntung, dalam perjalanan akan bertemu kawanan besar lumba-lumba yang berkejaran di sisi perahu. Selain itu, pengunjung juga bisa menyaksikan nelayan mencari ikan blue marlin.

Selain menyebrang melalui pelabuhan Kuala Stabas, juga bisa melalui jalur penyebrangan dari Desa Tembakak di Kecamatan Karya Penggawa dengan waktu tempuh yang lebih singkat, sekitar 15-20 menit.

Nyebrang dari Dermaga Tembakak
Nyebrang dari DermagaTembakak

Baca juga: Semarak Pulau Pisang Tahun 2018 Kembali Digelar

Sejarah Peradaban Pulau Pisang

Pulau Pisang memiliki sejarah peradaban kuat dari adat istiadat marga Way Sindi Olok Pandan yang masih kental. Rumah-rumah tinggi berdinding kayu yang lazim disebut lamban balak masih dengan mudah ditemui di pulau ini.

Potensi ekosistem dan sumberdaya hayati yang ada di Pulau Pisang antara lain terumbu karang dan perikanan tangkap. Hasil tangkapan yang beragam dapat terlihat seperti ikan tongkol, ikan tuna, ikan kerapu, dan ikan blue marlin. Perkebunan di Pulau Pisang didominasi oleh tanaman cengkih.

Pohon Cengkeh di Pulau Pisang
Pohon Cengkeh di Pulau Pisang

Tanaman cengkih di pulau ini memiliki kualitas baik dan tidak berhama dengan jangka waktu panen setiap satu satu tahun. Selain itu ada beberapa tanaman lain yang tumbuh di pulau ini seperti kelapa, kakao (cokelat), singkong, tales, ubi, pisang, dan papaya. Hasil perkebunan biasanya dikonsumsi pribadi dan di jual ke daratan Sumatera.

Kondisi fisik perairan Pulau Pisang berpotensi sebagai kawasan wisata pantai dengan beberapa kegiatan yaitu susur pantai, berjemur (sunbathing), dan memancing (fisihing).

Bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Pulau Pisang, tak usah khawatir mengenai penginapan. Karena di pulau ini tersedia sejumlah homestay atau bisa pula berkemah di tepian pantai.

Pecinta Sejarah dan Kisah Mistis

Untuk pecinta sejarah, di Pulau Pisang juga terdapat bangunan sekolah yang dibangun sejak zaman Belanda. Kondisi bangunannya sendiri masih utuh dan terjaga. Bahkan masih digunakan hingga saat ini.

SD dari zaman Belanda yang masih berdiri kokoh
SD dari zaman Belanda yang masih berdiri kokoh
SD dari zaman Belanda yang masih berdiri kokoh
SD dari zaman Belanda yang masih berdiri kokoh

Bagi yang suka dengan kisah mistis bisa bekunjung ke Goa Matu. Alkisah, bermukimlah masyarakat dimensi lain di sekitar Pantai Matu yang berpusat di goa besar yang disebut Goa Matu.

Goa Matu (Foto by: Aries Pratama)
Goa Matu (Foto by: Aries Pratama)

Masyarakat Pesisir Barat memberikan ciri, apabila bertemu seseorang yang tidak memiliki garis di atas bibir, berarti telah bertemu warga gaib Matu. Goa Matu bukan hanya sekadar goa tapi juga merupakan simbol sebuah tatanan masyarakat selain manusia, yang tidak kasat mata. Warga lokal percaya, masyarakat gaib tersebut memberikan perlindungan kepada warga Kabupaten Pesisir Barat dari berbagai ancaman alam. Hingga sekarang, masyarakat Pesisir Barat, khususnya warga Pekon (Desa) Way Sindi Hanuan dan sekitarnya masih sangat mensakralkan Goa Matu.

Goa Matu yang belum terjamah tangan jahil manusia membuat suasana alaminya masih terjaga. Pengunjung goa memang harus berpikir berulang kali untuk berbuat jahil, karena khawatir terkena tulah.

Terlepas dari nuansa mistis, Goa Matu merupakan potensi wisata alam yang menakjubkan. Berada di pinggir pantai, bebatuan tinggi, dan sinar matahari yang perlahan masuk ke mulut gua menambah keindahan gua ini. Berada di tepi pantai, goa ini dihuni ribuan kelelawar yang kotorannya menjadi bahan baku pupuk yang dimanfaatkan masyarakat.

Berapa panjang goa itu, tidak ada seorang pun yang tahu. Karena belum ada yang mampu menembus pekatnya bagian goa yang terdalam. Berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, Goa Matu memiliki pesona alam yang luar biasa, berfondasikan bentangan batu karang.

Mencapai Goa Matu sudah tidak terlalu sulit, karena Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat telah membuka sebagian jalan menuju ke sana. Pengunjung juga akan menikmati perkebunan cengkih milik penduduk dan aroma rempah tersebut semerbak di musim panen.

Namun bila ingin melihat panorama Goa Matu yang lain, bisa melalui jalan kecil peninggalan Belanda. Di sepanjang pantai tersebut, terdapat cerukan-cerukan berbentuk goa kecil. Terdapat juga muara sungai kecil yang airnya turun dari perbukitan. Adapula air terjun kecil dengan air yang jernih yang turun ke laut.

Saat menuju Goa Matu, di tepi jalan raya, wisatawan masih bisa melihat rumah-rumah warga yang masih berbentuk rumah panggung. Goa Matu berjarak sekitar 15 kilometer dari Krui, ibukota Kabupaten Pesisir Barat dan bisa ditempuh sekitar 25 menit dengan kendaraan.

Bersambung…..

Share

5 comments

  1. Wah, ada mbak Terry!

    Kalau terkenal dengan pohon cengkih, kenapa namanya Pulau Pisang, mas? #mikirkeras
    Itu pasirnya kayaknya halus bangeeettt. Penasaran sama serabi dan sate iwa tuhuk-nya. Apa bedanya serabi di situ dengan di Bandung atau Solo?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *